Kediri (Jatimsmart.id) – Bertempat disalah satu cafe di Kota Kediri, tim dosen dari Universitas Negeri Malang yang dipimpin oleh Mochammad Tri Herwanto melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dengan melibatkan komunitas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Geografi Kota Kediri (15-/05/25).
Kegiatan ini diikuti oleh 25 guru Geografi dari berbagai SMA/MA negeri dan swasta di Kota Kediri, dengan fokus utama pada penguatan kapasitas guru dalam Pendidikan Risiko Bencana (PRB) berbasis ekosistem sekolah.
Melalui pendekatan ini, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis mengenai PRB, tetapi juga menggali praktik-praktik terbaik dalam membangun ketangguhan sekolah terhadap berbagai potensi bencana secara partisipatif dan kontekstual.
School Ecosystem-based Disaster Risk Education menjadi dasar pengembangan materi dan aktivitas dalam kegiatan pelatihan ini. Ekosistem sekolah dipandang sebagai sistem yang kompleks dan saling berinteraksi, mencakup lima unsur utama dalam model Pentahelix Synergy: pemerintah, akademisi, masyarakat, media, dan sektor swasta.
Pendekatan ini diperkuat dengan kerangka teori ekologi Bronfenbrenner, yang mengelompokkan pengaruh lingkungan ke dalam lima sistem yaitu: macrosystem, exosystem, mesosystem, microsystem, dan chronosystem.
Tri menjelaskan selain harus menguasai keterampilan dalam mengajar, guru juga harus berpartisipasi aktif dalam meningkatkan budaya sadar bencana di sekolah.
“Melalui pemahaman mendalam terhadap karakteristik fisik, sosial, dan kelembagaan masing-masing sekolah, guru-guru didorong untuk mengembangkan keterampilan, meningkatkan kesadaran, serta memperkuat partisipasi aktif dalam membangun budaya sadar bencana di sekolah”, ujar tri
Strategi mitigasi dan adaptasi bencana dikembangkan melalui tiga pilar utama komunitas sekolah, yaitu:
(1) peningkatan fasilitas belajar yang aman; (2) penyusunan manajemen risiko bencana sekolah; dan (3) integrasi pendidikan kebencanaan dalam proses pembelajaran. Selama pelatihan, para guru terlibat aktif dalam sesi diskusi, simulasi, serta perancangan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang kontekstual, realistis, dan aplikatif.
Implementasi SPAB dapat dirancang melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, maupun kegiatan berbasis partisipasi warga sekolah secara luas.
Dalam sesi aktualisasi, peserta diberikan lembar kuesioner dan menuliskan gagasan pada sticky note dan menempelkannya pada media kertas manila sesuai dengan kategori bahasan, seperti identifikasi bahaya, kerentanan, aset sekolah, dan harapan terhadap ekosistem sekolah yang tangguh.
Metode ini terbukti efektif dalam membangun refleksi kritis dan kesadaran kolektif para guru mengenai pentingnya kesiapsiagaan dan ketahanan terhadap bencana melalui gagasan program inovatif dari para guru.
Lebih dari sekadar pelatihan teknis, sinergi antara dunia akademik dan komunitas guru menjadi kunci dalam membangun ketahanan kolektif di sektor pendidikan sesuai tujuan nomor empat Sustainable Development Goals (SDGs).
Dengan mengintegrasikan Pendidikan Risiko Bencana dalam kurikulum dan kehidupan sekolah bersinergi dengan lintas sektor, diharapkan setiap sekolah di Kota Kediri dapat menjadi laboratorium kesiapsiagaan bencana yang mampu melindungi generasi masa depan. (Red)
















