Jombang (Jatimsmart.id) – Salah satu pengrajin kayu lokal di Dusun Bawangan, Desa Kesamben, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, sukses mengangkat nilai seni dan budaya lokal ke tingkat internasional melalui produk-produk kerajinan berbahan dasar kayu gaharu dan cendana.
Dia adalah Fachrur Rochman bersama istrinya, Yeti—pasangan suami istri yang telah menekuni dunia kerajinan sejak 2014. Melalui label Art Kios, keduanya memproduksi beragam produk kerajinan, mulai dari aksesoris, dupa, ornamen rumah, hingga warangka (sarung) pusaka. Seluruh produk menggunakan bahan baku utama kayu gaharu dan cendana pilihan, yang dikenal memiliki aroma khas serta diyakini memiliki nilai spiritual tinggi.
“Setiap hari pasti ada customer yang datang ke rumah untuk mencari produk kami. Apalagi sejak kami membuka jasa penjamasan dan penyetelan warangka pusaka pada 2018, permintaan makin meningkat, khususnya saat bulan Suro,” ujar Yeti saat ditemui di kiosnya, Sabtu (5/7/2025).
Menurutnya, selama bulan Suro, pesanan jasa penjamasan dan penyetelan warangka pusaka bisa mencapai 10 hingga 15 pusaka dari satu pelanggan dalam sehari. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap tradisi dan spiritualitas yang melekat pada benda-benda pusaka.
Produk Art Kios tak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga telah menembus pasar internasional. Beberapa negara tujuan ekspor antara lain Malaysia, Singapura, Tiongkok, hingga Amerika Serikat. Bahkan, sejumlah kolektor mancanegara secara rutin memesan produk Art Kios sebagai bagian dari koleksi budaya Nusantara mereka.
Meski sempat terdampak pandemi COVID-19, terutama dalam hal pengiriman ke luar negeri, Fachrur dan Yeti berhasil menjaga keberlangsungan usaha mereka. Penjualan domestik justru mengalami peningkatan, khususnya untuk kategori aksesoris, dupa, dan ornamen rumah yang tetap diburu masyarakat.
Bagi masyarakat yang tertarik, produk-produk kerajinan Art Kios dapat ditemukan langsung di Dusun Bawangan, Desa Kesamben, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Selain itu, pemesanan juga bisa dilakukan secara daring melalui akun media sosial mereka dengan nama “Panjianom”.
Dengan dedikasi dan konsistensi selama lebih dari satu dekade, pasangan ini tak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga membawa harum nama Indonesia melalui karya seni bernilai tinggi. Art Kios menjadi bukti bahwa kekayaan tradisi lokal bisa bersaing dan diapresiasi di pasar global. (nam/ki)















