Kediri (Jatimsmart.id) – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri mencatat kinerja industri jasa keuangan di wilayah kerjanya tetap stabil hingga akhir tahun 2025. Hal ini disampaikan Kepala OJK Kediri, Ismirani Saputri, dalam kegiatan Media Update, Rabu (11/3/2026), di Studio Alinea, Jalan Pattimura, Kota Kediri.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah media elektronik, cetak, televisi hingga media siber dari wilayah Kediri, Blitar, Nganjuk dan Madiun.
Ismirani menyampaikan, OJK Kediri terus memperkuat pengawasan dan edukasi guna meningkatkan pelindungan konsumen serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Dari sisi layanan konsumen, sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2025, OJK Kediri menerima 1.301 permintaan layanan masyarakat melalui berbagai kanal seperti surat, tatap muka (walk-in), maupun telepon. Berdasarkan sektor industri, 582 pengaduan berasal dari sektor perbankan, 260 dari perusahaan pembiayaan, 232 dari industri financial technology, serta 132 dari sektor jasa keuangan lainnya.
Tiga topik pengaduan terbesar masyarakat meliputi restrukturisasi relaksasi kredit/pembiayaan/pinjaman (34,44 persen), Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) (24,06 persen), serta fraud eksternal seperti penipuan, pembobolan rekening, skimming, dan kejahatan siber (7,38 persen).
“Ini sebenarnya sudah cukup membaik dibandingkan tahun lalu. Mudah-mudahan masyarakat semakin paham bahwa apabila ada masalah dengan lembaga jasa keuangan, harus terlebih dahulu menyampaikan ke lembaga tersebut,” ujar Ismirani.
Pada sektor perbankan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga Desember 2025 tercatat tumbuh 4,20 persen (year on year) menjadi Rp106,9 triliun, didorong oleh peningkatan tabungan dan giro. Sementara penyaluran kredit mengalami perlambatan dengan pertumbuhan minus 1,24 persen (yoy) akibat melemahnya daya beli masyarakat serta kehati-hatian pelaku usaha menghadapi kondisi ekonomi global.
Meski demikian, profil risiko perbankan masih terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 3,19 persen, masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Di sektor pasar modal, jumlah investor terus meningkat. Jumlah Single Investor Identification (SID) tercatat tumbuh 32,97 persen (yoy) menjadi 535.568 SID, dengan instrumen investasi yang masih didominasi produk reksadana. Nilai transaksi saham masyarakat di wilayah kerja OJK Kediri juga meningkat signifikan menjadi Rp6,2 triliun.
Sementara itu, pada sektor Lembaga Pembiayaan, Modal Ventura, Pergadaian, dan Lembaga Keuangan Mikro (PVML), sejumlah indikator menunjukkan dinamika positif. Pembiayaan modal ventura tumbuh 15,92 persen (yoy) menjadi Rp323,70 miliar, sedangkan penyaluran pembiayaan pergadaian meningkat signifikan hingga Rp4,67 miliar.
Dalam upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat, sepanjang 2025 OJK Kediri telah menyelenggarakan 130 kegiatan edukasi keuangan yang menjangkau 81.134 peserta. Program tersebut juga diperkuat melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di 13 kabupaten/kota wilayah kerja OJK Kediri melalui berbagai program literasi keuangan.
Melalui berbagai program edukasi dan pengawasan tersebut, OJK Kediri berharap masyarakat semakin memahami produk dan layanan keuangan serta mampu memanfaatkan sektor jasa keuangan secara bijak dan aman. (jek)















