Blitar (Jatimsmart.id) – Di tengah menjamurnya kuliner modern, Warung Bu Martumi di Desa Ngoran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, tetap mempertahankan cita rasa tradisional melalui sajian lodeh tewel atau blendi yang dimasak menggunakan tungku kayu bakar. Kuliner legendaris yang telah eksis sejak era 1960-an itu hingga kini masih menjadi tujuan favorit warga lokal maupun para perantau yang pulang kampung.
Warung Bu Martumi dikenal luas berkat menu andalannya berupa lodeh tewel, yakni olahan nangka muda yang dimasak dengan kuah santan bercita rasa gurih dan pedas, dipadukan dengan aneka rempah pilihan. Aroma masakan yang berasal dari dapur tradisional bahkan telah menyambut pengunjung sebelum mereka memasuki ruang makan.
Keistimewaan kuliner ini tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga proses memasaknya yang masih mempertahankan cara tradisional. Seluruh bumbu dihaluskan secara manual menggunakan alu dan lumpang, kemudian dimasak di atas tungku berbahan bakar kayu.
Pengelola generasi ketiga Warung Bu Martumi, Ita, mengatakan metode memasak tradisional sengaja dipertahankan karena menjadi identitas sekaligus rahasia kelezatan lodeh tewel yang diwariskan turun-temurun.
“Kami mempertahankan cara pembuatan yang tradisional karena inilah yang membuat rasa lodeh tewel Martumi begitu khas,” ujarnya.
Warung yang berlokasi sekitar 15 kilometer di utara Kota Blitar ini berawal dari masakan rumahan yang dibagikan kepada tetangga. Seiring berjalannya waktu, cita rasa khas lodeh tewel semakin dikenal hingga berkembang menjadi salah satu destinasi kuliner legendaris di Kabupaten Blitar.
Selain rasa autentik, suasana warung juga menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung masih dapat melihat langsung aktivitas memasak di dapur tradisional dengan langit-langit yang menghitam akibat asap tungku kayu, menghadirkan nuansa hangat dan nostalgia layaknya dapur rumah tempo dulu.
Tingginya minat masyarakat terhadap kuliner ini terlihat dari jumlah bahan baku yang diolah setiap hari. Warung Bu Martumi menghabiskan sekitar 60 kilogram nangka muda (tewel), 40 kilogram rebung, serta 30 kilogram cabai segar untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Tak sedikit pelanggan yang rela datang dari luar daerah hanya untuk menikmati cita rasa lodeh tewel khas Blitar tersebut. Salah satunya Umi, pemudik asal Bontang, Kalimantan Selatan, yang mengaku selalu menyempatkan diri mampir setiap kali pulang kampung.
“Blendinya bikin kangen. Ini juga yang membuat kami dari Bontang mudik ke Blitar. Kami enggak bakalan absen makan Blendi Martumi,” katanya.
Warung Bu Martumi buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB atau sampai seluruh menu habis terjual.
Dengan konsisten mempertahankan resep dan teknik memasak tradisional selama puluhan tahun, Warung Bu Martumi tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga menjaga warisan kuliner khas Blitar. Lodeh tewel pun tetap menjadi simbol kekayaan rasa dan identitas daerah yang terus diwariskan dari generasi ke generasi. (jek/min)













