blusukan
Mas Dhito melihat wisata desa Sumber Bendo di Ringinrejo

Kediri (Jatimsmart.id) – Calon Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana terus blusukan ke berbagai wilayah di Kabupaten Kediri. Kali ini ia mengunjungi Pasar Sambi dan Sentra Budidaya Ikan di Sumber Bendo, Desa Ringinrejo, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Jumat (30/10).

Di Pasar Sambi, Mas Dhito banyak mendengar aspirasi para pedagang. “Di Pasar Sambi ini jumlah pedagangnya cukup banyak. Lalu saya tanya apakah berkenan dibangunkan pasar lebih layak, ternyata persoalan yang dihadapi adalah pengelolaan sampah. Ini perlu dipikirkan dengan matang, sampah harus dipisahkan dan harus diurai,” kata Mas Dhito

Ada ratusan pedagang yang berjualan di Pasar Sambi. Mereka terbagi dalam tiga kelompok. 600 orang berjualan sejak 02.00 WIB – 06.00 WIB. 250 pedagang berjualan mulai dari pukul 07.00 WIB hingga siang hari dan 100 orang berjualan pada sore hari.

BACA JUGA:

Sementara itu, di Sentra Budidaya Ikan Desa Ringinrejo, Mas Dhito berdialog dengan pengelola dan karang taruna setempat. Ia memuji kreatifitas pemuda yang berinisiatif memanfaatkan potensi di desanya dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

“Karang taruna bergerak di sektor pariwisata dan budidaya ikan. Mereka punya inisiatif untuk membangun PLTA. Dari sekian banyak daerah yang saya kujungi, di Ringinrejo ini tidak kesulitan air. Ini perlu dipertahankan, nanti coba kita lihat bersama, karena sekarang ini sudah mulai ada kolam kolam warga, sekitar 300 an dan itu sifatnya untuk keluarga,” imbuh Putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung itu.

Pemuda berusia 28 tahun ini telah melakukan aksi blusukan selama kurang lebih 8 bulan. Dari sekian pertemuan dengan berbagai kelompok masyarakat, pegiat sosial, lingkungan dan pelaku usaha, ia menangkap persoalan utama antara masyarakat dengan pemerintah daerah terkait sistem kerja kepala daerah dan pola komunikasi dengan rakyatnya.

BACA JUGA:

“Hikmahnya satu kepala daerah harus sering turun ke bawah, karena persoalan yang sulit mulai yang rendah kemudian dengan kompleksitas tinggi, bisa diketahui. Seperti contohnya di Pasar Sambi, ternyata pedagang tidak menginginkan pembangunan pasar yang lebih layak, tetapi mereka hanya ingin adanya pengelolaan sampah,” kata Mas Dhito.

“Ada juga UMKM yang masih belum tahu bagaimana produksi, pengemasan dan pemasaran. Inilah fungsi dari karang taruna untuk bisa mengelola desanya masing masing. Kalau pariwisata, menjamur di setiap desa ada, problemnya selalu akses jalan,” terangnya.

Mas Dhito tak ingin masalah-masalah tersebut justru menghambat perkembangan desa-desa di Kabupaten Kediri. “Kalau jalannya kurang bagus, orang datang aras-arasen,” keluhnya. (ydk/jek)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here