Dhoho Street Fashion
Salah satu karya terbaik di DSF 5. (foto: Humas Pemkot Kediri)

Kediri (Jatimsmart.id) – Dhoho Street Fashion ke-5 berlangsung meriah dan atraktif. Mengusung tema Pride of Jayabaya, para desainer menyajikan karya-karya memukau dalam pagelaran busana tahunan ini. Kreasi para desainer dalam memadu padankan Kain Tenun Ikat Bandar Kidul Kota Kediri ini pun, mampu mengundang kekaguman dari para penonton yang memadati areal Taman Hutan Joyoboyo.

Karya Priyo Oktaviano, membuka Dhoho Street Fashion ke-5 ini. Selain putra kelahiran Kota Kediri ini, ada Didiet Maulana yang sekali lagi turut memeriahkan pagelaran busana tahunan ini. Serta,  tak ketinggalan para desainer lokal berbakat lainnya.  Seperti, Samira M. Bafagih, Luxe Cesar Boutique, Azzkasim Boutique, Numansa dan para pelajar di Smk Negeri 3 Kota Kediri.

Mengusung tema Pride of Jayabaya, para desainer ini mampu memadu padankan Kain Tenun Ikat khas Bandar Kidul Kota Kediri dengan apik. Spirit masa keemasan Kerajaan Kediri pada kurun waktu 1135 – 1157 Masehi tergambar dalam konsep yang diusung para desainer. Mewah, namun tetap tidak meninggalkan kesan casual.

Bunda Fey sapaan akrab Ketua Dekranasda Kota Kediri mengaku sangat puas atas gelaran Dhoho Street Fashion ke-5 kali ini. Desainer yang diberi kesempatan oleh Dekranasda Kota Kediri untuk menampilkan karyanya juga menyuguhkan rancangan busana terbaiknya yang memukau. Selain itu, beberapa desainer lokal Kota Kediri juga menampilkan rancangan terbaiknya termasuk siswa-siswi SMKN 3 Kediri.

Dhoho Street Fashion
Salah satu karya terbaik di DSF 5. (foto: Humas Pemkot Kediri)

“Tadi banyak penonton yang bilang bahwa karya busana anak SMKN 3 Kota Kediri beda gitu, kayak yang kita beli baju biasa sama yang mereka jahit kok beda. Karyanya bagus dan keren,”ujarnya.

Kedepan, Ketua Dekranasda Kota Kediri ini juga akan melibatkan asosiasi perancang dalam acara Dhoho Street Fashion berikutnya. “Hal ini bisa jadi runaway para asosiasi perancang untuk berlaga. Mereka bebas berkreasi dan kita kasih panggung, karena suasana acara ini sangat berbeda dengan acara fashion show yang lain. Biasanya kan hanya di dalam gedung atau indoor saja, nah ini kita explore ruang terbuka hijau yang Pemerintah Kota Kediri miliki dan itu konsisten dilakukan dari dulu. Sehingga banyak potensi yang Kota Kediri punya bisa diangkat,” kata Bunda Fey.

Sementara itu, Mas Abu sapaan akrab Walikota Kediri juga menuturkan mengungkapkan kegamumannya dengan karya-karya ini. Karena banyak kreasi-kreasi busana baru yang ditampilkan oleh para desainer-desainer dan khususnya desainer lokal Kota Kediri.

“Kita lihat tadi rancangan busana para desainer yang ditampilkan, tenun yang digunakan tidak hanya kombinasi dua motif tenun tapi mungkin ada tiga sampai empat motif yang dikombinasikan. Kain tenun Kota Kediri itu bisa dibuat rancangan busana yang bagus dan yang jelas kain tenun itu keren dan handmade. Tenun itu bisa dipakai untuk semua kalangan seperti anak-anak, anak muda dan juga orang tua. Kalau dilihat tadi dipakai anak muda keren,” ungkap Abdullah Abu Bakar.

Pun dengan Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin. “Saya turut bangga menyaksikan karya wastra nusantara yang disajikan oleh para desainer ternama. Seperti Mas Priyo, Mas Didiet, Mbak Samira Bafagih dan tak ketinggalan juga para desainer lokal Kota Kediri Mas Khosim, Mbak Nunung dan putra-putri SMKN 3 Kediri,” ujarnya.

Lebih lanjut, Arumi menjelaskan bahwa kehadirannya untuk menyaksikan Dhoho Street Fashion kali ini merupakan bentuk dukungannya. Gelaran Dhoho Street Fashion tiap tahun selalu memberi warna baru dan berbeda walaupun busana yang ditampilkan tetap menggunakan kain tenun.

Baca juga : Dhoho Street Fashion, Usung Tema Pride of Jayabaya

“Dhoho Street Fashion ini selalu memberikan kesempatan pada anak SMKN 3 Kediri yang memang mengambil jurusan tata busana, dan memberikan kesempatan mereka untuk mendesain, menjahit, dan hasilnya luar biasa. Tenun Ikat ini di berbagai daerah ada. Namun tidak bisa dipungkuri bahwa terinspirasi dari Tenun Ikat yang asalnya dari Kediri. Karena tenun sendiri sebenarnya dibawa dari luar Jawa kemudian di Kediri inilah salah satu yang berhasil untuk membudidayakan dan menjadi salah satu sejarah.

“Tenun Ikat Kediri ini sudah bagus dan pertahankan. Makin hari makin milenial dan beri kesempatan kepada semua lini, hari ini kita lihat anak SMKN 3 punya panggung dan sediakan desain untuk semua usia, baik buat anak-anak, remaja dan orang tua,” ujar Arumi.

Sementara itu DSF sendiri digelar sebagai bentuk upaya Pemerintah Kota Kediri meningkatkan nilai Kain Tenun Ikat, serta ekonomi para perajinnya yang terpusat di kawasan Bandar Kidul Kota Kediri. (ydk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here