Stunting
CEGAH: Proses pelatihan Pot dari Serabut Kelapa.

Kediri (Jatimsmart.id) – Saat ini Stunting menjadi isu nasional yang hangat diperbincangkan. Penanganan nya pun sangat diprioritaskan, mengingat dampak buruk terhadap penderitannya. Begitu halnya di Kabupaten Kediri, berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) Kementerian Kesehatan Tahun 2013 tercatat ada 34,8 % kasus Stunting di Kabupaten Kediri. Adapun kasus tersebut tersebar di 20 desa dan 4 diantaranya adalah di Kecamatan Ringinrejo.

Pada tahun 2018 kasus tersebut di Kecamatan Ringinrejo tercatat 23%. Setelah dilakukan konsolidasi dan upaya penanganan bersama, oleh pihak-pihak terkait. Secara simultan pada bulan timbang balita di bulan Februari 2019 kasus tersebut menurun menjadi 11%. Kemudian dilakukan upaya kembali pada bulan Agustus 2019, kasus Stunting turun menjadi 10% dari 4212 balita di Kecamatan Ringinrejo.

Upaya pencegahan dan penanggulangan Stunting terus dilakukan oleh Pemerintah Daerah setempat, salah satunya dilakukan oleh Pemerintah Desa Batuaji dengan menggelar pelatihan kerajinan pot bunga berbahan limbah serat atau sabut kelapa, bekerja sama dengan kelompok belajar Riung Saloka. Pelatihan ini menyasar ibu hamil dan menyusui.

Stunting
KREATIF : Pot bunga dari Serabut Kelapa

Pelatihan ini erat hubungannya dengan pencegahan kasus Stunting, karena diantara penyebab kasus tersebut adalah kurangnya asupan gizi bagi ibu hamil atau menyusui. Ini disebabkan ketidak pahaman soal asupan gizi dan faktor ekonomi. Penyebab lain adalah kurangnya aktivitas ibu dimasa kehamilan sehingga mempengaruhi kesehatan janin dan memicu timbulnya kasus gagal tumbuh pada anak ini.

Makin Wahyudin, Kepala Desa Batuaji mengatakan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan sinergi antara upaya pencegahan sekaligus peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Batuaji.

“Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa ibu hamil maupun menyusui balita sangat membutuhkan dukungan. Juga media untuk bertukar pikiran,” kata Makin. Makin sendiri berharap pelatihan ini mampu mendapatkan income tambahan sehingga pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan menyusui dapat tercukupi.

Sementara itu, Niken Candrayu bidan Desa Batuaji menambahkan bahwa faktor pemicu Stunting bukan semata-mata dari tingkat ekonomi masyarakat yang rendah tapi juga dipicu dari ketidak pahaman ibu hamil maupun menyusui dalam pemenuhan gizi janin dan balita. Khususnya pada 1000 hari pertama kelahiran. Oleh karena itu, penting sekali adanya perhatian dan kesadaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk beraktivitas secara aktif dan produktif.

Baca juga :

Pelatihan ini mendapat respon positif dari peserta, seperti yang diungkapkan oleh Sundari. “Tidak seperti yang dibayangkan diawal, ternyata sangat mudah setelah dilakukan pelatihan dan tentunya dapat memberikan penghasilan tambahan keluarga,” kata Sundari.

Dengan adanya pelatihan ini diharapkan menumbuhkan kelompok-kelompok minat untuk berwirausaha, khususnya bagi kelompok sasaran stunting. Dari kelompok yang sudah terhimpun diharapkan selanjutnya ditindak lanjuti dengan pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang beragam dan produktif. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga Stunting dapat dicegah serta ditekan serendah mungkin. (ydk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here