Menteri Agama
bedah buku fiqih kebangsaan, peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Amien, Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kediri.

Kediri (Jatimsmart.id) – Kiai sepuh Kediri angkat bicara, terkait polemik penunjukan Menteri Agama Fachrul Razi. Gus War, pengasuh Pondok Pesantren Al Amien, Kota, Kediri ini menilai masyarakat tak perlu lagi memperpanjang persoalan ini. Sebab, saat ini menurutnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana membentengi Negara dari radikalisme.

“Menteri itu disesuaikan dengan tupoksi. Pejabat disesuaikan dengan tupoksi. Tugas berat sekarang ini seperti yang dikatakan Presiden, membentengi negara ini dari radikalisme,” Kata Gus War, sapaan akrab KH Anwar Iskandar, usai membuka acara bedah buku fiqih kebangsaan, peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Amien, Ngasinan, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kota, Kediri. Minggu, (26/10).

Lebih lanjut, menurut Gus War, dalam mengatasi radikalisme dibutuhkan prinsip the right man on the right place. Sosok menteri agama sekarang ini berlatar belakang anggota TNI, yang diyakini memiliki nasionalisme kuat termasuk pemahaman mengenai politik.

“Berlatar belakang TNI, kami yakin nasionalisme kuat, juga pemahaman politik cukup. Walaupun tidak berbasis pendidikan agama tapi punya pemahaman yang cukup tentang politik dan strategi selamatkan negara. Itu penting,” tegas Gus War.

Untuk itulah dengan seminar kebangsaan semacam ini masyarakat dan santri bisa semakin memahami Islam yang sebenarnya, sehingga bisa menyikapi tentang negara bangsa.

“Negara ini adalah negara bangsa dan bukan negara agama. Jadi, kiai paham tidak terpengaruh oleh paham yang bertentangan dengan negara bangsa dan Pancasila seperti radikalisme, liberalisme, komunisme,” terang Gus War.

Senada dengan Gus War, panitia bedah buku fiqih kebangsaan, KH Oing Abdul Muid Shohib mengatakan kegiatan tersebut sengaja digelar. Selain bagian dari peringatan Hari Santri, 22 Oktober sekaligus ingin memberikan pemahaman tentang kebangsaan pada gus dan ning serta para santri.

“Jangan ada yang salah di Indonesia. Salah tapi kelihatannya benar. Islam disampaikan dengan simbol. Islam seolah Agama pedang, padahal sejarahnya Nabi Muhammad SAW tidak perang jika tidak dimulai,” kata dia.

Gus Muid juga menambahkan bentuk NKRI bukan tanpa dasar. Para ulama dan tokoh bangsa telah merumuskan negara ini juga berdasarkan Al Quran dan hadist. Untuk itu, ia berharap dengan adanya kegiatan ini segala hal bisa diluruskan dan bisa diteruskan ke masyarakat luas tentang Islam rahmatan lil ‘alamin.

Turut hadir dalam acara ini jajaran pengurus PCNU Kota Kediri, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kota Kediri Nur Muhyar, para Gus, Ning, dan perwakilan santri dari sejumlah Pondok Pesantren di Kota Kediri. (ad)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here