Ayam Panggang Bangi
Ayam Panggang Bangi (foto: Ig ayampanggang_bangi)

Kediri – Selain wisata alam dan sejarahnya, kuliner di Kabupaten Kediri tak habis untuk dijelajahi. Tak hanya pecel tumpang, dan kuliner di warung-warung khas pedesaan, Ayam Panggang Bangi wajib masuk dalam daftar buruan. Sama-sama pedas, Ayam Bangi memiliki cita rasa yang berbeda dengan Ayam Panggang Betutu khas Bali.

Penasaran? Sesuai namanya, Warung Tradisional Ayam Panggang Bangi terletak di Desa Bangi, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Jauh dari pusat keramaian, kuliner legendaris ini tetap eksis dan tak pernah sepi pembeli.

Jika datang dari arah Surabaya, tidak butuh waktu lama untuk bisa menikmati pedas mantap Ayam Bangi. Tol Surabaya-Kertosono mampu memangkas waktu, hingga hanya menyisakan satu jam perjalanan.

baca juga : Soto Kambing 35, Kuliner Legenda Sejak Sebelum Merdeka

Berdiri sejak 40 tahun silam, warung yang dibangun oleh Nafi’ah ini awalnya hanya menyajikan Nasi Pecel dengan lauk Ayam Panggang. Namun, justru itu lah yang kemudian menjadi favorit masyarakat.

“Awalnya ibuk dulu itu jualan Nasi Pecel. Terus kepingin jualan ayam panggang, bikin satu, dua terus sampai lima. Alhamdulillah kok terus lancar sampai saat ini,” kata Siti Ngaisah, diantara tiga menantu Nafi’ah yang kini mengelola warung Ayam Panggang Bangi.

Di warung bekas rumah yang kini telah direhab ini, ratusan pecinta kuliner pedas datang setiap harinya. Sejak jam 8 pagi, hingga jam 3 sore. Termasuk, para pendatang baru yang ingin merasakan pedasnya Ayam Bangi.

baca juga : Sego Resek atau Nasi “Sampah”, Kuliner Kaki Lima yang Populer di Malang

Tutik, warga asli Kediri yang kerap mengajak serta keluarganya dari Surabaya mengaku cita rasa Ayam Panggang Bangi ini cukup nagih.

“Ayamnya enak banget, ngresep (meresap) banget bumbunya. Ini saudara-saudara saya ajak kesini, pendatang baru ternyata nggak selesai-selesai makannya, nambah terus,” kata Tutik sembari menyantap Ayam Bangi dihadapannya

Sebagai bahan utama Ayam Panggang Bangi, ayam kampung berusia tiga bulan dipilih oleh pengelola. Karena ayam muda memiliki tekstur yang lebih empuk.

Yang bikin penikmatnya ketagihan, adalah cara pemasakannya yang masih tradisional, yang membuat masakan semakin sedap. Pertama setelah dibersihkan, ayam dipanggang dengan bara arang. Kemudian direbus agar ayam lebih empuk. Selanjutnya, ayam diolesi bumbu pedas ‘rahasia’, campuran rempah-rempah. Sebelum kemudian kembali dipanggang agar bumbu lebih meresap.

baca juga : Sarapan Soto Bok Ireng Blitar; Satu Mangkuk, Dijamin Nambah Lagi!

Tak cuma ayam, sebagai pelengkap, Ayam Panggang Bangi disajikan bersama nasi punel hangat dan urap sayur berisi lalapan kacang panjang, bayam serta kecambah masak yang ditambah parutan sambal kelapa. Ayamnya bisa dipesan potongan atau utuh. Potongan dihargai Rp. 25 ribu perporsinya, sementara ayam utuh, dihargai Rp. 95 ribu.

Dalam sehari, 200an ekor Ayam Bangi terjual. Jika akhir pekan, pengelola menyiapkan 300 ekor, bahkan tak jarang mereka harus tutup lebih awal karena persediaan ayam ludes diborong. (ydk)

.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here