Kediri – Pemerintah Kota Kediri bersama pemerhati budaya dan masyarakat, Sabtu (27/7), menggelar Tradisi Manusuk Sima. Manusuk Sima merupakan visualisasi dari sebuah peristiwa yang telah ada 1140 tahun silam, hal ini untuk menunjukkan sejarah berdirinya Kota Kediri berdasarkan Prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah tahun 1892. Pada prasasti tersebut berangka tahun 801 saka atau tanggal 27 Juli 879 M. Untuk itu, tanggal ini selalu diperingati sebagai Hari Jadi Kota Kediri.

Prosesi Manusuk Sima sendiri ibarat napak tilas pada lahirnya kota penuh sejarah ini. Diawali dengan kirab prasasti oleh para seniman dan budayawan menuju panggung yang telah disediakan untuk berlangsungnya prosesi inti.

Setelah itu, kemudian dibacakan naskah jawa yang menggambarkan awal mula Kediri seperti tergambar dalam prasasti yang ditulis dengan bahasa Sanskerta tersebut. Prosesi Manusuk Sima itu juga diiringi dengan tarian-tarian yang kental dengan tradisi di Kediri. Kemudian, prasasti dijamas dengan air dari sumber mata air Dadapan dan Lo Klotok.

Proses kirab prasasti Kwak dalam tradisi Manusuk Sima
Proses kirab prasasti Kwak dalam tradisi Manusuk Sima

Dalam upacara Manusuk Sima tersebut dihadiri Walikota Kediri dengan memakai baju Kediren beserta jajarannya. Pada kesempatan ini, Mas Abu menjelaskan bahwa manusuk sima ini mengandung arti penetapan sawah pategalan seluas empat tampah. Pelaksanaan penetapan sawah pategalan ini pada masa kejayaan Raja Rakai Kayuwangi, tanah sima ini sangat subur, dialiri air patirtan tirtoyoso sehingga dapat mensejahterakan masyarakat Kota Kediri pada era itu.

Lebih lanjut Walikota Kediri mengungkapkan selama 1140 tahun, Kota Kediri telah mengalami beberapa kali transformasi. Dimulai dari dijadikannya Kediri sebagai ibukota kerajaan, kemudian dengan memiliki sebuah dermaga kapal pada masa itu, Kota Kediri menjadi kota dagang dengan Arab, Cina, Malaka dan Nusantara. Transformasi selanjutnya ada di bidang ekonomi, mulai dari manufaktur lama yaitu pabrik gula, kemudian manufaktur baru yaitu industri rokok hingga saat Ini menjadi kota berbasis jasa.

“Dari berbagai transformasi ini, yang harus kita syukuri bersama adalah kisah dari perjalanan panjang Kota Kediri yang selalu membawa perubahan dan membawa kebaikan untuk masyarakat,” kata Walikota Kediri.

Ia berpesan untuk selalu menjaga kebudayaan leluhur ditengah keberagaman, modernisasi dan kemajuan teknologi saat ini. Seperti yang pernah disampaikan Presiden Pertama Indonesia Soekarno, jas merah Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

“Alhamdulillah karena terus melestarikan sejarah, Kota Kediri telah memperoleh berbagai hal positif, dimulai dari keharmonisan seluruh masyarakatnya dengan perbedaan yang ada. Semangat inilah yang Pemerintah Kota Kediri abadikan sebagai tagline dari Kota Kediri yaitu Harmoni Kediri The Service City, sebuah kota harmonis dengan pelayanan prima dari pemerintah kepada masyarakatnya.” Kata Mas Abu.

Turut hadir dalam acara tersebut, Sekretaris Bakorwil Renanto Adi Raharjo, Dandim 0809 Letkol Kav Dwi Agung Sutrisno, Wakil Kepala Polres Kediri Kota Kompol Iwan Sebastian, Ketua Pengadilan Negeri Sarah Louis Simanjutak, perwakilan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, Sekretaris Daerah Kota Kediri Budwi Sunu HS, dan Kepala OPD Pemerintah Kota Kediri. (ydk/sam)

 

Baca Juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here