Kediri – Cerita panji yang akrab di masyarakat Kediri memiliki nilai sejarah yang cukup unik dan bermakna. Yakni tentang cerita percintaan, perpisahan dan reintegerasi. Hal tersebut mengemuka dalam seminar yang dilakukan oleh Sejarawan dan akademisi dari Universitas Negeri Malang. Kegiatan tersebut dihelat di ruang kilisuci Pemkab Kediri.

Dwi Cahyono, M.Si selaku Sejarawan dan Akademisi dari Universitas Negeri Malang membahas dari sudut Spirit Integritas atau lebih tepatnya keserasian dan terapan dari Cerita Budaya Panji. Menurutnya ada tiga episode yang semuanya sangat menarik, yaitu integritas, disintegritas dan reintegritas.

Pertama, integritas dari cerita tersebut ditunjukkan kisah percintaan ketika Panji dengan Dewi Sekartaji terlibat sebagai sepasang kekasih. Kedua, disintegritas terlihat adanya kebersamaan mereka namun hanya sementara karena harus terpisah saat berkelana. Hal tersebut digambarkan dengan benda antariksa yaitu matahari ketika muncul hanya di pagi hari (diibaratkan sebagai Panji) dan bulan yang hanya muncul di malam hari (diibaratkan sebagai Dewi Sekartaji). Ketiga, reintegrasi ditunjukkan pada kisah mereka yang diawalnya bersama, kemudian berpisah dan kembali lagi untuk bertemu. Pertemuan tersebut seperti pergantian waktu, dimana matahari dan bulan bertemu namun hanya sementara.

“Maka dari itulah Cerita Budaya Panji ini merupakan cerita berbingkai dan memiliki unsur ‘mempertemukan kembali’,” katanya.

Lebih lanjut Spirit integritas dalam cerita budaya panji ini mengandung suri tauladan, yang baik diterapkan dalam kehidupan nyata.

“Seperti saat kita bertemu atau bersilaturahmi dengan saudara atau siapapun, itu juga suri tauladan dari cerita tersebut,” imbuhnya.

Pihaknya berpesan terutama generasi milenial harus mencontoh hal tersebut, walaupun cerita budaya panji ini lampau tapi memiliki nilai kasih dan cinta yang tidak akan pernah mati. (ydk/sam)

 

Baca Juga :

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here