Wiji (kanan) menangis saat bersama Neneknya mengenang ibunya yang pergi.
Wiji (kanan) menangis saat bersama Neneknya mengenang ibunya yang pergi.

Kediri – Air mata Wiji Fitria (21) menetes, kerap kali Jirah sang nenek yang duduk disebelahnya menyebut nama ibu kandungnya, yang kini entah kemana. Ibu dan ayahnya pergi meninggalkan Wiji saat ia beranjak dewasa.

“ibuke mboten semerep teng pundi, tirose teng Kalimantan. Bapake ngluyur. Kulo namung tiang kaleh, kaleh Wiji (Ibunya tidak tau kemana, katanya ke Kalimantan. Bapaknya pergi. Saya cuma berdua, sama Wiji,” kata Jirah saat ditemui dirumahnya di Desa Ngadi, Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Sabtu (20/4/2019).

Sejak saat itulah, kisah pilu ini dialami Wiji. Wiji menderita gangguan jiwa dan kerap mengamuk. Tak jarang ia membahayakan tetangga sekitar. Kini masyarakat menyebutnya ‘Kanibal’ karena Wiji memakan jari kedua tangannya sendiri hingga putus.

Perbuatan memakan bagian tangan ini dilakukan Wiji diluar kesedarannya setahun terakhir. Hingga tanpa disadari, aktivitas itu membuatnya jarinya membusuk dan putus karena tak ada penanganan serius terhadap luka yang menganga di tangannya.

“Tirose nggeh wonten sing mbisik i ngono, lek umat mari dicokoti ya bengok-bengok. (Katanya ada yang  membisikkan, kadang setelah digigit ya teriak-teriak),” cerita Jirah

“Enek sing mbisiki, (ada yang membisikkan),” saut Wiji.

Ketika mengamuk, Wiji terpaksa dikurung oleh keluarga dibantu kerabat dan tetangga disebuah kamar berpintu besi. Ini yang justru membuat Wiji kerap depresi. Jika sedang normal, Wiji berperilaku biasa layaknya masyarakat umum. Ia juga berjualan Tahu di sekitar Pondok Al-Falah Ploso, tak jauh dari rumahnya.

Sementara itu, Pemerintah Desa bersama Puskesmas setempat sebenarnya sudah berupaya mengobatkan Wiji. Bahkan Wiji pernah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang di Kabupaten hingga 3 kali namun karena keinginan pasien serta sang nenek Wiji kembali dibawa pulang dan hanya dirawat seadanya di rumah.

Saat ini kedua tangan Wiji yang telah membusuk diperban oleh Tim Medis di Rumah Sakit Dr Iskak Tulungagung untuk mencegah Wiji melalukan gigitan. Sama seperti sebelumnya keluarga enggan menjalani perawatan intensif dan memilih pulang setelah menjalani pemeriksaan ringan. (ydk/sam)

 

Baca Juga :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here