Linda, saat menyiapkan semangkuk Soto Kambing 35 untuk pelanggannya.
Linda, saat menyiapkan semangkuk Soto Kambing 35 untuk pelanggannya.

Kediri – Kuliner khususnya Soto di Kediri memang cukup beragam. Diantaranya ada Soto Tamanan di Kelurahan Tamanan, Soto Branggahan di Kecamatan Ngadiluwih. Soto Podjok dan Soto Pakelan di jantung Kota Kediri. Mayoritas mereka menggunakan daging ayam atau sapi sebagai isiannya.

Baca Juga : Sarapan Soto Bok Ireng Blitar; Satu Mangkuk, Dijamin Nambah Lagi!

Di Desa Mlati, Kecamatan Mojo ada Soto dengan isian Daging Kambing yang tak kalah lezatnya. Kuliner ini melegenda sejak 1940, sebelum Republik ini merdeka. Soto 35 Mbah Jani.

Mewarisi resep sang mpunya, Linda kini meneruskan usaha kuliner ini. Linda adalah cucu mantu. Ia menikah dengan anak Mbah Jani, Basuki yang menjadi trah generasi ketiga. Sebelumnya, ayah mertuanya lah yang meneruskan usaha itu.

Tak ada yang berubah sejak Mbah Jani mulai berjualan. Pikulan berbahan bambu itu belum berubah, dan dibiarkan menghitam. Mirip Soto Branggahan, Soto Kambing 35 ini disajikan di mangkuk kecil. Namun, dimasaknya masih menggunakan cara tradisional dengan tungku kayu bakar yang menambah cita rasa dari kuliner tersebut. Praktis, hanya Kwali yang belum lama ini pecah dan digantikan dengan Panci. Serta lokasi yang kini berpindah kerumahnya, tepat di depan KUA Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri.

“Sekarang sulit mencari Kwali berbahan tanah liat itu. Itu sejak lama kok, Mbah nggak terlalu sering ganti,” kata Linda sambil terus menyiapkan pesanan untuk para pelanggannya.

Untuk resep, Linda tak mengurangi dan menambahkan bahan lain. Bumbu yang digunakan untuk membuat soto tersebut menggunakan resep olahan bumbu dapur “rahasia” keluarga yang sudah ada sejak turun temurun.

“Bumbu dapur lengkap. Tanpa bahan buatan pabrik,” imbuh ibu dua anak ini.

Bumbu bersama daging kambing yang mereka sembeli sendiri ini, kemudian dimasak selama kurang lebih tiga jam. Selain resep bumbu masakan yang sudah lama, soto daging kambing Mbah Jani masih setia mempertahankan produk kecap manis asal Tulunganggung Jawa Timur sebagai pendamping pelengkap rasa. “Meski sekarang ini lebih banyak produk kecap dipasaran, kita masih tetap pergunakan kecap lama buatan Tulunganggung yang rasanya lebih pas”

Yang unik, ketika kuah soto selesai diberi kecap, penjual selalu meletakkan botol kecap ke bawah dengan keras, sehingga menimbulkan bunyi suara ‘dok!’

Harga satu porsi soto daging kambing mbah Jani, cukup murah. Hanya dijual dengan harga Rp. 6 ribu. Sebagai pelengkap, sayuran kecambah dan daun seledri disajikan ditaruh diatas mangkok.

“untuk sambal saya selalu tanyak, kan selera orang beda-beda,”

Karena rasa yang enak dan porsi yang tidak terlalu banyak, umumnya pelanggan yang datang selalu nambah lebih dari satu porsi. Seperti halnya Fendy Lesmana, pecinta kuliner asal Kota Kediri ini yang mengaku baru pertama kali datang ke soto daging kambing Mbah Jani. Ia baru tahu, jika masakan soto daging kambing mbah Jani sudah ada sejak 1940. Dengan lahap ia menyantap sedikitnya tiga mangkuk. “Rasanya memang enak. Ini tadi saya habis tiga mangkok, hehe” seloroh pria bertubuh tambun ini.

Linda mengaku, pembeli yang datang tidak hanya berasal dari Kediri saja melainkan daerah lain seperti Blitar, Tulunganggung, Trenggalek bahkan hingga Surabaya. “Jatah satu ekor kambing biasanya sudah habis dalam jangka waktu tiga sampai empat hari, tapi kalau momen tertentu seperti lebaran ya jangan tanyak, dua hari habis.” pungkasnya. (ydk/sam)

 

Baca Juga :

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here